Pluralisme menjadi topik yang menarik dibicarakan setelah beberapa tokoh pemikiran Indonesia memunculkan wacana tersebut. Tokoh-tokoh tersebut salah duanya adalah Nurcholis majid dengan yayasan Paramadina dan Gus Dur dengan Wahid Institute-nya.
Retorika memang lebih sulit dari pada pengetahuan. Untuk memahami tentang Pluralisme menjadi sebuah keharusan untuk memunculkan gagasan yang berkaitan dengan pluralisme itu sendiri.
pluralisme adalah sebuah kerangka di mana ada interaksi beberapa kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormat dan toleransi satu sama lain. Mereka hidup bersama (koeksistensi) serta membuahkan hasil tanpa konflik asimilasi.
Pluralisme adalah dapat dikatakan salah satu ciri khas masyarakat modern dan kelompok sosial yang paling penting, dan mungkin merupakan pengemudi utama kemajuan dalam ilmu pengetahuan, masyarakat dan perkembangan ekonomi.
Dalam wadah yang bernama IPNU-IPNU, pemahaman tentang pluralisme menjadi sebuah keharusan untuk menciptakan kesamaan langkah dan tujuan yang harus dicapai oleh para pelajar NU tersebut. Kesiapan untuk menciptakan keharmonisan akan terwujud bila pengetahuan pluralisme sedikit demi sedikit terpampang dalam perbuatan organisasi melalui program-program yang memiliki nila pluralisme.
Perbedaan bisa menjadi sebuah kekuatan atau kelemahan, kebaikan atau keburukan bagi organisasi. Hal tersebut bergantung pada bagaimana menghadapi perbedaan yang ada di organisasi tercinta bernama IPNU-IPPNU.
Bisa diargumentasikan bahwa sifat pluralisme proses ilmiah adalah faktor utama dalam pertumbuhan pesat ilmu pengetahuan pada setiap anggota dan stakeholder pelajar NU. Pada gilirannya, pertumbuhan organisasi akan bergerak lurus dengan peran yang dilakukan oleh pelajar NU dalam masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar